Sabtu, 19 September 2009

My Big Fail

2009 sepertinya adalah tahun kegagalan bagi saya.
Banyak hal yang saya coba perjuangkan namun berbuah gagal.
Pekerjaan, kehidupan pribadi dan banyak hal lain terjun bebas ke titik nadir.
Harapan kecil yang tetap berusaha saya pelihara tak ubah seperti titik debu
di padang kegagalan yang membenamkan saya hidup-hidup.

Roda hidup saya sedang berputar ke bawah dan mirisnya, seperti enggan beranjak
ke atas. Setelah melewati tahun demi tahun cemerlang dan penuh warna keberhasilan
setidaknya untuk ukuran saya. Sekarang saya memasuki tahun yang menyesakkan dan
terasa dihimpit ketidakberhasilan seorang diri.
Saat ini saya jadi ingat masa-masa sulit sekian tahun lalu. Saat saya gagal kuliah
dan pulang dengan bahu terjatuh luruh dan wajah getir menahan malu.
Saat dimana saya bangun pagi sebagai seorang yang jobless dan menghabiskan hari-hari
dengan energi yang tidak menghasilkan apa-apa.
Adakah yang lebih menggelisahkan daripada kenyataan gagal dan useless seperti ini ?

Andai bisa memutar waktu, ingin sekali rasanya bisa kembali ke satu bulan lalu...
Ingin bisa kembali ke saat dimana seharusnya pikir jernih bisa lebih mengemuka
Ingin kembali ke saat dimana seharusnya kesadaran sempat menguasai keadaan dan
memberikan warning bahwa tembok yang dihadapi begitu tebalnya, sehingga melawan
adalah niscaya kesia-siaan.

Luar biasa, dalam satu bulan ini gempuran masalah seperti menjadi bayangan tubuh
saya sendiri, ikut kemanapun saya pergi.
Satu per satu kegagalan, masalah dan perkara buruk menunjukkan kuasanya dalam
hidup saya, seolah tak pernah kehabisan persediaannya.
Saya yang selama ini terkadang geli dengan apa yang sering dipermanis dengan sebutan
"cobaan" mulai tersudut dan hilang akal ditertawai gerombolan cobaan itu.

Secara lugu seorang saudara berucap bahwa saya toh masih beruntung punya tempat berteduh yang begitu nyaman. Dalam hati saya meringis, masih bisa disebut beruntung
kah saya dengan apa yang terjadi di rumah ini, saat ini..?
Namun sejurus saya merenung dan berpikir bahwa mungkin ada baiknya dalam gempuran
masalah ini saya tengah terasing sendiri,tanpa teman atau sahabat.
Karena perempuan cantik seperti dia, tampaknya lebih tepat hanya untuk tempat berbagi suka, bukan duka apalagi rentetan perkara dan kegagalan.....

Dari Bilik Keheningan-------RIG ( 16 September 2009 )